Gagal SBMPTN Part 2
Hasil memang tidak ada yang tahu,
kita sebagai manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin tanpa mengetahui
apa yang akan kita dapat setelah usaha yang kita kerahkan. Lapang dada memang
harus kita siapkan jika hasilnya tak sesuai harapan. Tetap mampu bangkit
setelah kita hancur, menurutku suatu hal yang terpenting dalam hidup ini,
meskipun aku sekarang ini masih belum bisa berdiri secara tegak setelah hasil
yang kudapat bahwa aku gagal menjadi pemenang dalam SBMPTN. Aku hanya manusia
biasa, hanya bisa berusaha kembali untuk berdiri tegak kembali, selebihnya aku
masih saja goyah, tersandung kembali, bangun lagi, berjalan lagi. Sampai
akhirnya menemukan jalan yang harus kupilih lagi antara ikut SBMPTN kembali
ataupun tetap di tempat yang seperti kedung ini, tetap di Tulungagung.
Pilihan jalan yang berada didepan
tidak ada yang aku tahu bagaimana prosesnya, lika-likunya, maupun hasilnya
nanti, keduanya sama-sama samar, tak ada yang aku ketahui. Banyak faktor yang
harus kupertimbangkan jika aku memilih untuk mengikuti SBMPTN tahun ini lagi.
Mulai dari orangtua, mereka mungkin tidak akan merestui aku untuk stag
disini dan ikut SBMPTN kembali. Tidak hanya faktor biaya, mereka tidak
mengizinkanku sebab jarak yang jauh dari mereka. Aku tahu sebenarnya mereka
tidak tega jika aku jauh dari mereka, tak tega aku di negeri orang sendiri
tanpa kerabat keluarga. Mungkin sebab ini juga aku tidak mendapatkan hasil yang
kuinginkan pada SBMPTN tahun lalu. Kurangnya penjelasan yang kuberikan kepada
orangtua, kurangnya komunikasi dengan mereka juga menjadi sebab aku tak
mendapat restu dari orangtua.
Disisi lain soal-soal SBMPTN
menurutku adalah sebuah pertanyaan yang jawabannya harus kita temukan melalui
perjalanan yang jauh atau butuh travelling dulu, seperti ke Eropa. Aku
tidak menakuti temen-temen dengan soal-soal SBMPTN yang seperti itu, tapi
memang seperti itu soal SBMPTN. Kita tidak cukup hanya belajar sendiri,
banyakin kerja kelompok dengan temen-temen lain, ikut bimbingan belajar di kursus
manapun, asalkan kita harus mau bersungguh-sungguh, pasti kita mampu. Banyakin
tanya ke guru-guru kalau mentok temen-temen kita belum tahu cara dan
jawabannya juga. Tahun lalu, kesalahan terbesarku adalah tidak membuat kerja
kelompok dengan temen-temen, dan aku juga tidak ikut bimbingan belajar. Aku
belajar sendiri, dari buku-buku yang setebal lemari kayu seperti di rumah
kalian itu, buka satu bab aja udah kayak mabuk bir sebotol, apalagi harus
mempelajari semua materi. Jelaslah aku waktu itu seperti memaksakan untuk paham
semua materi, tapi apalah dayaku, dengan kemampuan otak yang pas-pas an ini, ya
ujung-ujungnya aku tidak lolos SBMPTN. Tahun ini, sejak saat ini juga aku belum
mempersiapkan apapun tentang SBMPTN, padahal testnya kurang dua minggu lagi,
tak tahu apakah aku harus mengikuti SBMPTN tahun ini apa tidak, karena faktor
restu menjadi momok yang terus menghantui pikiranku dan aku belum siap
materi apapun.
Menginginkan target PTN yang terbaik
itu tidak salah, tapi kita harus tahu dulu peminatnya seberapa besar saingan
kita untuk mendapatkan jurusan tersebut di universitas yang diimpikan. Ketika
aku mengisi formulir pendaftaran SBMPTN tahun lalu, aku tidak melihat passing
grade dulu, aku langsung milih aja jurusan yang aku suka di PTN yang menurutku
aku bisa diterima, seperti tidak memikirkan hasilnya seperti apa nantinya,
tergesa-gesa seperti tak punya arah tujuan hidup. Mengetahui passing grade
sangatlah perlu untuk mengukur saingan kita, dan kemampuan kita dalam menjawab
target soal supaya kita bisa lolos SBMPTN. Dulu aku tidak mengetahui tentang
hal tersebut, jadi aku tidak mementingkan passing grade tersebut, yang
kutahu kalau lolos SBMPTN itu tak mementingkan passing grade. Ternyata
kita juga butuh strategi yang tepat supaya bisa lolos SBMPTN.
Kembali lagi
ke topik, apakah aku harus ikut SBMPTN lagi atau tidak. Selain faktor restu
orangtua dan aku sendiri juga belum siap materi apapun untuk SBMPTN tahun ini,
kurasa tidak memungkinkan aku mengikuti SBMPTN tahun ini. Sebenarnya aku juga
menginginkan ikut SBMPTN kembali tapi sejak saat ini aku belum diberi
kesempatan untuk mengomunikasikan dengan orangtuaku secara serius. Terakhir aku
menanyakan kepada orangtuaku terutama kepada ibuku, beliau tidak setuju itu,
mekipun beliau menyampaikannya dengan bahasa tersirat. Hasil antara ikut SBMPTN
kembali atau tetap melanjutkan kuliahku disini, keduanya aku tak tahu, mana
yang membuat nasibku lebih baik aku tak tau. Aku hanya bisa meminta petunjuk
sampai saat ini supaya aku diberikan jalan yang terbaik oleh ALLAH SWT dan
ALLAH SWT menempatkanku disini pasti mempunyai teka-teki kehidupan yang belum
aku ketahui sekarang, sebab ALLAH SWT lebih mengetahui yang terbaik untuk
hamba-Nya daripada mengabulkan apa yang diinginkan hamba-Nya. Maka dari itu,
pasti ini yang terbaik untukku, aku selalu yakin bahwa ada kejutan besar yang
telah dipersiapkan ALLAH SWT untuk hamba-Nya yang tak tahu malu ini. Aamiin...
“Sebesar
apapun usaha kita untuk mewujudkan sesuatu yang kita inginkan, jika itu memang
rezeki kita, maka rezeki itu tidak akan kemana. Rumus kehidupan itu sebenarnya
usaha, berdoa dan serahkan kepada pengatur kehidupan. Jika hasil tak sesuai
harapan, persiapkan lapang dada dan keikhlasan yang sejati dari dalam diri,
supaya kita bisa merasakan pelajaran baru yang mungkin telah kita lupakan
caranya. Sejatinya kehidupan ini seperti roda yang terus berputar. Lihatlah
tempat udara masuk pada roda, ketika berada diatas cepat turun, dan ketika
berada dibawah lama untuk kembali naik, sebab menghancurkan sesuatu sangatlah
mudah, sedangkan membangun sesuatu itu sangatlah sulit."
Mari
temen-temen, kita baca surah Al-Fatihah yang dikhususkan untuk
semua harapan, cita-cita dan keinginan kita yang baik, supaya ALLAH SWT
memudahkan jalan kita untuk meraihnya, dan mewujudkan semua hal tersebut
menjadi kenyataan. Aamiin...
Semoga bisa
membawa kebaikan dari secuil rangkaian payah tulisan ini. Kritik dan saran sungguh
diharapkan.
Matursuwun.
Tulungagung
April 14, 2018
April 14, 2018
Komentar
Posting Komentar