Twenty Seven for 2025

Hai, apa kabar? Baik-baik saja ya?
Lama sekali aku tidak mengupload dan membagikan keresahan hidup randomku ini. Sebenarnya aku nulis beberapa pengalaman kurang baikku tahun lalu. But, just keep it saja buat aku. Menyembuhkan lukaku dengan menulis atau bisa dibilang katarsis.

Capek ga? Aku capek banget nih. Kayaknya stress soal kerjaan yang monoton sama menghadapi orang-orang yang di kerjaan. Ada saja gebrakan mereka untuk membuat sebal orang lain. Suka banget membidikku supaya emosi. Baik di kerjaan malah jadi sasaran empuk untuk dimanipulasi, dibohongi dan dikambing hitamkan. Sejujurnya ga nyaman banget sampai pengen resign dari kerjaan bahkan sampai rasanya pengen resign juga dari kehidupan. Cari nama di kerjaan boleh-boleh saja, tapi mosok sampek ngidak-ngidak koncone. Ngomong begitu juga aku bukan sosok yang punya etika baik. Ada jahatnya juga, tapi setidaknya memanusiakan manusia sejatinya akan kembali kepadamu juga. Dulu aku pernah berantem sama temen kerja, memarahi dia didepan banyak orang atau temen kerja yang lainnya. Dibalik semua itu, aku sudah ga bisa membiarkan cowok yang semena-mena melecehkanku secara verbal. Itupun dia melecehkan engga sekali dua kali, tetapi setahun lebih. Dibanding-bandingkan fisiknya, direndahkan dengan imajinasi pornonya. Aku juga manusia, siapa sih yang kuat dengan hal kayak gitu. Aku udah ga mikirin reputasiku di kerjaan nanti bagaimana. Dapat brandingan jahat biarlah, daripada brandingannya polos tapi aslinya manipulatif, na'udzubillah. Aku ga ingin kalau hal-hal toxic kayak gitu diagung-agungkan untuk dipertahankan dalam lingkungan pekerjaan. Apalagi dengan alibi itu hanya bercandaan. Kalau kita gabisa mengubah semua keadaan setidaknya kita bisa mengubah sesimpul tali yang sudah sangat rumit simpulnya. 
Hah, semoga Allah SWT selalu melindungiku.

Bertambahnya tahun, otomatis bertambahnya umur juga. Ya, 2025 ini umurku 27 tahun. Dimana standart orang-orang Indonesia, umur segini kalau cewek udah punya anak cakep. Nganter sekolah anaknya pakai mobil Honda HRV. Punya rumah minimal kayak hotel bintang 7. Suaminya pengusaha yang punya kebun sawit 1000 hektar sampai 10 keturunannya masih bergelimang kemewahan. Punya mertua yang menganggap menantunya anak sendiri bahkan lebih sayang menantu daripada anak kandungnya sendiri. Semua ipar dan temen-temenya supportif dan ga fake. Suaminya sholeh, setia, tanggung jawab, jujur, sabar, soft spoken, cukup punya satu istri saja dan ga cari selingkuhan. Hah, indahnya hidup. Aamiinin aja dulu. Nah, beda orang jelas beda cerita. Hidupku yang random dan unik ini belum seperti itu. Banyak banget yang nanyain kapan nikah, (...). Speechless aku, gabisa jawab lagi. Jawab dengan basa-basi juga sudah basi bagiku. Takdir orang gaada yang tahu, kita sudah ikhtiar sebisa kita tapi kalau belum waktunya ya mau bagaimana. Slow living dan menikmati masa lajang dulu kenapa sih. Entah seseorang atau kematian yang akan mendahului, kita juga tidak tau. Hanya Allah SWT yang tahu. 

Seketika aku ingat sebuah film yang berjudul How to Make Millions Before Grandma Dies. Menabung tidak hanya dengan uang, tetapi menabung memori dengan momen-momen sederhana bersama keluarga itu adalah tabungan paling mahal harganya. Meskipun keluargaku bukan keluarga yang cemara, keluarga yang pernah membuatku hancur babak belur bahkan kubenci tetapi mereka adalah orang-orang yang menerima segala ketidakberdayaanku. Ya, intinya masa-masa single seperti ini adalah masa-masa dimana banyak waktu bersama orangtua. Jadi, tidak akan ada rasa tenang, selain bersyukur dan menikmati masa saat ini.
Salam hangat untuk keluargamu dan kamu yang membaca kerandoman segala keresahku ini. ♡

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Luruh pasti Utuh

Gagal SBMPTN Part 2