Postingan

Luruh pasti Utuh

Gambar
Hai hai, apa kabarnya? Aku berharapnya sih semua yang membaca ini selalu happy yaaa... Gimana hidup kalian menjelang akhir tahun 2025 ini, aman ga? Gedebak gedebuk ga? Kalau iya, selamat Anda-Anda semua hebat dan kuat, hahaha. Kayak motivator ga tuh, maap hehehe. Kali ini aku mau sedikit cerita aja selama setahun terakhir. Huah , setiap awal pasti mempunyai akhir ya. Yap , setahun terakhir ini aku menyelesaikan pekerjaanku sebagai admin pada salah satu ekspedisi di Pare. Selama 3 tahun 2 bulan aku bekerja disitu dan berakhir pada 31 Oktober 2025 lalu. Banyak banget ceritanya dari awal aku diberi kesempatan untuk  join pada 19 Agustus 2025. Kenangannya, pembelajarannya tentang pekerjaan, belajar memahami orang meskipun bagiku itu sulit sih. Terharu banget, aku join dari awal prepare buka gudang sampai pada titik dimana team bersih-bersih semua barang di gudang.  It the last and memories weren't gone. Thanks for everything to team. Akhir adalah awal dari sesuatu yang baru. ...

Twenty Seven for 2025

Hai, apa kabar? Baik-baik saja ya? Lama sekali aku tidak mengupload dan membagikan keresahan hidup randomku ini. Sebenarnya aku nulis beberapa pengalaman kurang baikku tahun lalu. But, just keep it saja buat aku. Menyembuhkan lukaku dengan menulis atau bisa dibilang katarsis. Capek ga? Aku capek banget nih. Kayaknya stress soal kerjaan yang monoton sama menghadapi orang-orang yang di kerjaan. Ada saja gebrakan mereka untuk membuat sebal orang lain. Suka banget membidikku supaya emosi. Baik di kerjaan malah jadi sasaran empuk untuk dimanipulasi, dibohongi dan dikambing hitamkan. Sejujurnya ga nyaman banget sampai pengen resign dari kerjaan bahkan sampai rasanya pengen resign juga dari kehidupan. Cari nama di kerjaan boleh-boleh saja, tapi mosok sampek ngidak-ngidak koncone . Ngomong begitu juga aku bukan sosok yang punya etika baik. Ada jahatnya juga, tapi setidaknya memanusiakan manusia sejatinya akan kembali kepadamu juga. Dulu aku pernah berantem sama temen kerja, memarahi dia d...

Sejenak untuk Sesekali Bersua

      Apa kabarnya kalian? Gimana, masih dengan kesehatan dan kenormalan yang sama seperti sebelumnya? Semoga tetap sehat fisik dan psikisnya ya, serta rezeki kalian ngalir terus menerus hingga tidak ada habisnya. Oh ya, sehat dan panjang umur selalu ya buat orang-orang tersayangnya kalian semua. Aamiin.     Gatau nih, tiba-tiba banget gua pengen nulis lagi di blog ini. Biasanya kalau gua nulis blog gini ada beberapa hal yang mengganggu pikiran gua. Kali ini, bukan soal diri gua sendiri aja, tetapi mungkin beberapa orang juga merasakannya.       Gimana udah dapet berita apa aja selama awal tahun 2021 ini? Apa aja yang kalian rasakan selama awal tahun ini? Kalau kalian merasakannya pasti aku juga merasakannya karena kita memang berada di tempat yang sama, Indonesia.     Setiap minggu banyak banget berita duka yang bikin hati tidak tenang. Kenapa bencana-bencana terus diberikan? Rasanya ingin berteriak untuk meminta sup...

Ini Itu, Hih Apaan Sih?

Kali ini gua mau nulis apapun tentang kegelisahan dalam pikiran dan hati gua akhir-akhir ini , maap kalo random sih. Semoga kegelisahan ini cuma hanya jadi tulisan, enggak jadi pikiran apalagi bikin sakit badan. Semua yang tertulis disini ya pas gua lagi keinget aja. Itung-itung buat obat untuk kegelisahan gua. Momen sekarang ini tuh, say a ng banget kalo gak diabadikan, sayang banget kalo terus dilupakan dan sayang banget kalo terbuang dengan sia-sia. Gua sebenernya males banget buat nulis lagi, apalagi buat ngisi blog ini. Untungnya gua diberi temen yang super duper ngerti gua kalo males diapain, ya dipaksa dan dikasih semangat. Dari situ gua sadar diri, emang apa ruginya kalo ngelakuin hal yang positif. Emang perlu usaha lebih untuk mengumpulkan niat dan tekad. Tapi kalo udah tekad mungkin akan ngalir aja, awalnya sih gitu. Orang yang bermakna dalam kehidupan seseorang, pasti akan selalu diingat apapun perbuatan dan perkataannya. Sebenernya kegelisahan gua ba...

Bimbang

Berkeluh kesah terus sampai bahan habis yang dikeluh kesahkan memang capek juga, menambah kegundahan hati sudah pasti dan menurutku hanya nol koma persen tak sampai satu persen manfaatnya, lebih banyak virus yang nantinya akan masuk dalam pikiran dan jiwa kita. Bimbang memang selalu datang saat ada pilihan yang menghadang. Terus bangkit atau tetap menjalani pilihan awal yang terus berjalan merupakan sebuah arah babak yang datang selanjutnya. Kupikir berlarut-larut dalam kegagalan SBMPTN tanpa melakukan kegiatan yang bermanfaat akan membuat lupa kesakitan hati tersebut. Namun sebaliknya, malah membuat diri ini semakin banyak menyesali takdir yang telah ditetapkan, sulit untuk lupa bahkan setiap detik menolak lupa atas jalan dari-Nya. Dulu aku sering menyepelekan seorang yang telah mampu bangkit kembali dari kegagalannya. Memang takdir telah berubah, posisi gagal sedang menghadangku. Kuakui bahwa bangkit dari kegagalan memang sangat sulit. Apalagi saat dipandang sebelah mata dan ...

Kilas Balik Sebuah Pengorbanan

Siapa tega seorang ayah yang mampu menyembelih anak yang telah lama dinanti karena sebuah perintah yang tak mampu ditentang dari penguasa dirinya. Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak tecintanya Nabi Ismail untuk mentaati perintah dari Maha Kuasa, Allah SWT. Namun, Allah SWT sebenarnya mengetahui segala isi hati hamba-Nya, tak terkecuali isi hati Nabi Ibrahim. Beliau sangat menyayangi anak yang telah lama beliau nantikan. Seorang ayah mana yang tidak bimbang jika dihadapkan oleh dua keputusan berat antara mengorbankan anak tersayang atau tidak menuruti perintah dari Sang Pemilik alam semesta ini. Sang Maha Tahu tentu tidak akan membiarkan seorang yang telah berkorban begitu besar tanpa ada balasan yang lebih besar juga. Sampailah pada hari pengorbanan dimana Nabi Ismail berserah diri saat ayahnya mulai menyembelihnya tanpa diketahui oleh Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, seorang anak yang akan disembelihnya tersebut diubah oleh Allah SWT dengan seekor domba. Setelah Nabi Ibrahim sel...

Karena Itu, Kita Perlu

Gambar
Tepat 9 windu lebih 1 tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah berjuang mati-matian melahirkan negara Indonesia. Para pemuda menjadi gerakan terdepan dalam menggerakan Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan. Tak melihat kondisi apapun saat itu, kecuali kesempatan saat Jepang kalah dari Sekutu. Para pemuda dengan semangat yang membara menekan Soekarno untuk segera memerdekaan bangsa Indonesia walaupun saat itu Soekarno sedang sakit. Berbekal bendera merah putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati dan teks proklamasi yang diketik oleh Sayuti Melik telah dipersiapkan untuk dibacakan dan dikibarkan pada Jum'at, 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomer 56, Jakarta Pusat. Tepat pada hari yang agung, 73 tahun silam telah menjadi saksi perjuangan rakyat Indonesia. Kemerdekaan tersebut merupakan kemerdekaan secara de jure bukan de facto. Secara de facto negara Indonesia saat itu belum seratus persen merdeka, masih banyak kemiskinan, kelaparan dan belum sejahtera. B...