Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

Kilas Balik Sebuah Pengorbanan

Siapa tega seorang ayah yang mampu menyembelih anak yang telah lama dinanti karena sebuah perintah yang tak mampu ditentang dari penguasa dirinya. Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak tecintanya Nabi Ismail untuk mentaati perintah dari Maha Kuasa, Allah SWT. Namun, Allah SWT sebenarnya mengetahui segala isi hati hamba-Nya, tak terkecuali isi hati Nabi Ibrahim. Beliau sangat menyayangi anak yang telah lama beliau nantikan. Seorang ayah mana yang tidak bimbang jika dihadapkan oleh dua keputusan berat antara mengorbankan anak tersayang atau tidak menuruti perintah dari Sang Pemilik alam semesta ini. Sang Maha Tahu tentu tidak akan membiarkan seorang yang telah berkorban begitu besar tanpa ada balasan yang lebih besar juga. Sampailah pada hari pengorbanan dimana Nabi Ismail berserah diri saat ayahnya mulai menyembelihnya tanpa diketahui oleh Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, seorang anak yang akan disembelihnya tersebut diubah oleh Allah SWT dengan seekor domba. Setelah Nabi Ibrahim sel...

Karena Itu, Kita Perlu

Gambar
Tepat 9 windu lebih 1 tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah berjuang mati-matian melahirkan negara Indonesia. Para pemuda menjadi gerakan terdepan dalam menggerakan Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan. Tak melihat kondisi apapun saat itu, kecuali kesempatan saat Jepang kalah dari Sekutu. Para pemuda dengan semangat yang membara menekan Soekarno untuk segera memerdekaan bangsa Indonesia walaupun saat itu Soekarno sedang sakit. Berbekal bendera merah putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati dan teks proklamasi yang diketik oleh Sayuti Melik telah dipersiapkan untuk dibacakan dan dikibarkan pada Jum'at, 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomer 56, Jakarta Pusat. Tepat pada hari yang agung, 73 tahun silam telah menjadi saksi perjuangan rakyat Indonesia. Kemerdekaan tersebut merupakan kemerdekaan secara de jure bukan de facto. Secara de facto negara Indonesia saat itu belum seratus persen merdeka, masih banyak kemiskinan, kelaparan dan belum sejahtera. B...

Mengumpulkan Niat

Mengumpulkan niat untuk menulis seluk beluk kehidupan atau pengalaman sehari-hari tentang suatu kejadian yang mungkin bermanfaat bagi orang lain memanglah jauh dari kata mudah. Banyak halangan dan godaan untuk sampai pada titik kuatnya niat itu. Begitulah yang kurasakan, sebenarnya niat untuk menulis segala uneg-unegku tentang apapun itu sudah ada sejak aku pertama kali buat blog, namun lemahnya niat selalu menjeda niat baik yang sudah dicita-citakan. Buruk memang, tak ada untungnya, tambah lagi menyia-nyiakan nikmat yang mungkin sulit didapatkan saat masa depan nanti yakni kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat tersebut sering sekali aku tidak sadari bahkan tidak aku syukuri.  Sampai batinku mulai tersindir secara alus lewat cerita teman-teman disetiap akun sosial mediaku. Ada yang membuat cerita tentang dia yang kehilangan semangat untuk menulis, ada yang dari sebuah akun menganalisis psikologi seseorang yang hasilnya pilihanku mempunyai arti yang sedikit menyinggung pi...

Gagal SBMPTN Part 2

            Hasil memang tidak ada yang tahu, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin tanpa mengetahui apa yang akan kita dapat setelah usaha yang kita kerahkan. Lapang dada memang harus kita siapkan jika hasilnya tak sesuai harapan. Tetap mampu bangkit setelah kita hancur, menurutku suatu hal yang terpenting dalam hidup ini, meskipun aku sekarang ini masih belum bisa berdiri secara tegak setelah hasil yang kudapat bahwa aku gagal menjadi pemenang dalam SBMPTN. Aku hanya manusia biasa, hanya bisa berusaha kembali untuk berdiri tegak kembali, selebihnya aku masih saja goyah, tersandung kembali, bangun lagi, berjalan lagi. Sampai akhirnya menemukan jalan yang harus kupilih lagi antara ikut SBMPTN kembali ataupun tetap di tempat yang seperti kedung ini, tetap di Tulungagung.             Pilihan jalan yang berada didepan tidak ada yang aku tahu bagaimana...