Sejenak untuk Sesekali Bersua

     Apa kabarnya kalian? Gimana, masih dengan kesehatan dan kenormalan yang sama seperti sebelumnya? Semoga tetap sehat fisik dan psikisnya ya, serta rezeki kalian ngalir terus menerus hingga tidak ada habisnya. Oh ya, sehat dan panjang umur selalu ya buat orang-orang tersayangnya kalian semua. Aamiin.

    Gatau nih, tiba-tiba banget gua pengen nulis lagi di blog ini. Biasanya kalau gua nulis blog gini ada beberapa hal yang mengganggu pikiran gua. Kali ini, bukan soal diri gua sendiri aja, tetapi mungkin beberapa orang juga merasakannya.
 
    Gimana udah dapet berita apa aja selama awal tahun 2021 ini? Apa aja yang kalian rasakan selama awal tahun ini? Kalau kalian merasakannya pasti aku juga merasakannya karena kita memang berada di tempat yang sama, Indonesia.

    Setiap minggu banyak banget berita duka yang bikin hati tidak tenang. Kenapa bencana-bencana terus diberikan? Rasanya ingin berteriak untuk meminta supaya berita duka tidak terjadi lagi. Namun, itu semua tidak mungkin banget. Ini kehidupan yang penuh dengan sesuatu yang bernyawa dan mempunyai emosi. Kuat ataupun tidak, harus dilalui. Meskipun kadang, rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk terus menanggung beban kehidupan. 

    Dapat dikatakan Indonesia saat ini sedang berduka. Terkait setuju atau tidak dari kalian, gua engga tahu. Namun, faktanya memang iya adanya. Mulai dari pesawat jatuh, gempa, banjir, tanah longsor, gunung meletus, pemuka agama banyak yang wafat dan pandemi karena Covid 19 saja belum berakhir. Kesedihan mendalam dan turut berduka cita terhadap segala macam musibah yang terjadi saat ini.

    Tidak semua manusia itu bisa kuat, seringkali mengeluh dan butuh untuk saling menguatkan supaya kita bisa melaluinya. Gua keinget pada drama yang berjudul, "Itaewon Class" (yang penikmat drama korea pasti tahu) ada beberapa pesan moral yang gua dapet dari drama tersebut. Jika orang-orang saling bersatu maka kekuatan baru akan ada. Pada situasi saat ini, dengan keadaan masing-masing yang kita hadapi, sewajarnya kita semua saling menguatkan. Bersatu untuk membangun kekuatan, sekarang lebih penting untuk dilakukan. Gua sendiri berharap semuanya kembali baik-baik saja dan pasti akan ada keberkahan setelah musibah-musibah ini berlalu.

    Beberapa waktu terakhir ini juga terdapat pembicaraan yang sering gua jumpai, yakni pembicaraan berbau tentang privilege. Hampir semua platform di internet menggunggah pembahasan tentang ini. Privilege adalah kata dari bahasa Inggris yang artinya hak (istimewa). Hak istimewa ini dikarenakan oleh beberapa hal dan tidak semua orang mendapatkannya. Gua yakin semua yang baca tulisan ini pasti udah tahu apa aja yang masuk privilege

    Menurut gua, semua orang itu punya hak istimewa, tergantung masing-masing orang dapat memanfaatkannya atau tidak. Sekarang ini, hak istimewa yang paling dilihat dan diunggul-unggulkan adalah tentang kekayaan, kecantikan atau ketampanan, popularitas, keturunan, jabatan, agama atau faktor lainnya yang masih banyak lagi. Kehidupan yang susahpun, menurut gua juga punya hak istimewa. Kemampuan bertahan hidup yang dimiliki orang dengan kehidupan 'tersebut' mungkin saja tidak didapatkan oleh orang-orang yang kehidupannya kecukupan sejak kecil. 
 
    Misal contoh yang gua alamin, mungkin ketika punya orangtua yang sama seperti gua yakni orangtua berprofesi sebagai petani dan anaknya diminta untuk membantu di sawah, menurut gua anak itu juga dapat privilege. Dimana si anak itu bisa belajar secara langsung bagaimana proses merawat tumbuhan, mulai dari menanam, memupuk, menjaga kebutuhan si tanaman itu hingga sampai memanennya dan menjadi penghasilan untuk mencukupi kebutuhan. Kesempatan untuk bertahan hidup seperti ini mungkin tidak didapatkan seseorang yang dari kecil hidup di kota besar. Privilege orang-orang yang hidup di kota besar jelas berbeda.

    Bagi orang-orang yang telah dapat privilege sejak lahir dengan kehidupan yang super nyaman, seharusnya juga bisa memanfaatkan dengan sebaik mungkin tanpa membuat orang-orang yang tidak mendapatkan privilege itu, merasakan perbandingan tersebut. Gua yakin, tidak semua orang yang punya privilege berlaku seenaknya, mungkin saja juga menurunkan kualitas dirinya. Tidak semua orang begitu. Namun, beberapa orang mungkin melakukannya. 
 
    Mungkin sekarang, udah saatnya untuk mulai tidak menunjukkan hak istimewa yang dimiliki kepada orang lain. Buat apa nunjukin kekayaan, kecantikan atau ketampanan serta popularitas yang dimiliki sekarang kepada orang lain. Itu semua bikin insecure, tahu kan?. Apa manfaatnya buat insecure orang? Jelas engga ada manfaatnya. Untuk memotivasi orang lain? Menurut gua itu bukan cara yang bijak untuk memotivasi orang lain. 
 
    Cara bijak menurut gua adalah dengan mengajak untuk upgrade diri bareng-bareng supaya meningkatkan kualitas diri, misalnya melalui belajar banyak hal dan mencari pengalaman. Belajar dan pengalaman menurut gua bekal untuk hidup dimanapun sampai kapanpun sehingga dapat menjadi pribadi yang mampu menyesuaikan dengan pergaulan lingkungan sekitarnya. Gua juga nulis gini, bukan berarti gua udah bisa segalanya, itu semua salah. Gua juga masih butuh banyak belajar dan pengalaman buat hidup gua. 
 
     Privilege ini tanpa disadari udah mulai menciptakan polarisasi di masyarakat. Banyak kubu-kubu bermunculan yang merasa menjadi kelompok ini, menjadi kelompok itu sehingga menjadi sebuah kesenjangan. Misalnya aja, geng si kaya yang ga mau temenan sama 'yang katanya miskin'. Si geng goodlooking yang gamau temenan sama orang yang punya wajah unaesthetic. Si geng follower banyak yang gamau temenan sama follower recehan. Itu semua hanya contoh, tidak semua orang berlaku membeda-bedakan. 
 
    Terus ada lagi, kasus viral Kristen Grey yang dianggap terjadi karena orang Indonesia terlalu ngasih privilege lebih untuk bule-bule di Bali. Kristen Grey merupakan turis asal Amerika Serikat yang tinggal di Bali secara illegal. Dia menjadi perbincangan karena kasusnya yang membuat ebook untuk dia jual kepada turis lainnya. Ebook ini berisi tentang trik mengakali peraturan sistem di Indonesia supaya bisa tinggal secara gratis tanpa bayar pajak di Bali selama Covid 19. 
 
    Adanya kasus tersebut, beberapa orang beropini bahwa itu semua berawal karena orang Indonesia sendiri terlalu memberikan privilege lebih seperti pelayanan terlalu baik kepada turis luar negeri. Padahal kita sendiri (sesama orang Indonesia) masih membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. Body shaming, saling menghina, saling mengejek atau sesuatu lain yang merendahkan orang lain masih aja menjadi kebiasaan orang-orang Indonesia. Simpelnya, terlalu memperlakukan dengan baik orang-orang luar dan tidak memperlakukan dengan baik orang-orang dalam. Kalau bahasa Jawa, "Ngapiki njobone ae, ora ngapiki njerone".

    Perbedaan privilege tersebut sebenarnya menjadi kesempatan untuk belajar tentang perbedaan yang telah ditakdirkan ini. Kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri masing-masing dengan saling menurunkan ego diri sendiri yang masih merasa dirinya paling unggul karena beberapa faktor. Kesempatan untuk menjarah berbagai perspektif atau sudut pandang dari orang lain. Dari berbagai sudut pandang tersebut, akan ada jalan tengah untuk tetap menyatukan perbedaan. Perbedaan ini, sudah menjadi kehendak dari Allah SWT untuk kita semua saling mengenal satu sama lain, saling menjaga kerukunan dan saling tolong menolong. Perbedaan ini menjadikan kehidupan kita lebih berwarna dan bermakna.
 
  Gua nulis ini dari awal sampai akhir, itu semua hanya opini gua yang akhir-akhir ini ganggu pikiran gua dan banyak yang memperbincangkan. Semua opini tersebut berdasarkan beberapa sumber yang gua dapat sebelumnya. Jelas semua orang pasti memiliki perspektif yang berbeda-beda. Maka dengan tulisan ini, mari sejenak untuk sesekali bersua berbagi sudut pandang kalian kepada gua. Kritik dan saran bebas diutarakan di komentar blog gua ini. Kesalahan dan kekurangan masih banyak di tulisan gua dan terimakasih yang sudah membaca tulisan gua. Tulisan ini tidak banyak memberi manfaat, tapi dari sedikit manfaat itu semoga bisa bermanfaat buat yang membaca
 

- Salam Hangat -

(dari sini)

   
    
 
   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Luruh pasti Utuh

Twenty Seven for 2025

Gagal SBMPTN Part 2